[π ππ²πΌπΌ π€, ππͺπ½π²πΆπͺπ±! ] by Eun_Prita
π ππ²πΌπΌ π€, ππͺπ½π²πΆπͺπ±!
⠀⠀By Eun_Prita π
⠀
⠀
⠀⠀⠀⠀πππ 01
⠀⠀π·πππ π»πππππππ
⠀
⠀
"Kalau hati gue gak bisa diganti karena lupa password, mau apa elo? Surat keterangan putus gak bakalan keluar, jangan harap elo bebas dan Gambang buang gue." ~ Bertanda Brama ~
⠀
πΉπΉπΉ⭐πΉπΉπΉπ ππ²πΌπΌ π€, ππͺπ½π²πΆπͺπ±!
⠀⠀By Eun_Prita
πππππππ
⠀
Senyuman terlukis di wajah Brama, siswa SMA Bangsawan Indonesia. "Kenapa Bram? Senyum sendiri gitu."
"Iya, elo gak kesurupan kan?" Teman-teman Brama pada heran, tetapi Brama tidak mendengarkan mereka.
"Woy, Brama! Elo mau keluar? Padahal gue udah pesan makanan elo. Minimal elo bayar, jangan main cabut." Ujar Angga yang tidak dibalas oleh Brama.
Sisi lain, ditempat Brama berada sedang bersiap mengangkat telepon. "Hall-"
"Kita putus!" Dua kata itu mengakhiri panggilan, buat Brama kaget.
"Elo bilang apa? Putus?!" Syok Brama sambil menatap phone, sungguh si Patimah yang menelepon dan mengakhiri panggilan.
"Sialan. Udah backstreet dari anak SMA, elo telepon gue untuk bilang ini? Putus sama gue? Hah.. Ini gila."
Brama agak kesal, langsung menelepon Patimah berkali-kali. "Awas aja elo, kalau gue telepon terus gak di angkat."
Setelah berkeliling tempat tapi tidak dapat memanggil Patimah, Brama menurunkan tangan yang memegang phone. Raut agak kecewa dan sedikit marah, Brama tersenyum miring.
"Okey, fine. Kalau gak mau ngangkat, gue bakalan telepon lagi nanti. Ataupun nekat datang ke kelas elo. Mari kita lihat cowok baru Patimah, sang kekasih Brama." Tangan Brama memutar phone dengan gambang.
"Apakah lebih cakep dari gue? Atau dibawah gue," Lanjut Brama dengan senyum meremehkan.
Brama kembali manggil Patimah hingga 200 kali, tapi tidak diangkat. Setelah Brama yang mencoba memanggil seluler Patimah didalam kelas, kini telah bosan menunggu waktu pulang.
"Cowok baru Patimah, beneran cakep apa?" Ugam Brama yang menidurkan diri di atas meja.
"Tapi walaupun gue coklat gini, gue termasuk ganteng. Ada lesung Pipit kiri yang tajam, muka gue mulus tanpa perawatan. Muka gue ini gak ada flek, rambut juga oke."
"Masa sih gue kurang cakep?" Tanya Brama agak sedikit ragu.
"Nisa. Nisa, Nisa." Panggil Brama secara sembunyi dari ibu guru yang sedang mengajar.
"Pinjam cermin." Tanpa basa-basi Nisa menyerahkan cermin yang berada dibawah loker ke Brama.
Secara sembunyi Brama berkaca. "Muka gue oke. Cakep. Masa sih ini gak cukup. Menurut gue, cakep."
'Hmm.. Apa karena gue gak perawatan masker gitu yah? Kan di sosial media, banyak couple maskeran bareng. Yah mungkin, gara-gara itu.'
Brama berpikir keras hingga waktu pulang sekolah. Pada saat itu, Brama langsung keluar menuju kelas Patimah. "Bodoh amat, elo enggak suka. Gue datangi elo."
Brama yang sudah sampai di kelas Patimah langsung ke meja Patimah. Brama menggebrak meja Patimah, "Woy kekasih Brama."
Brama mengambil tangan Patimah, ketika Patimah menoleh kearah Brama. "Brama."
Mata Patimah terlihat kaget, apalagi pandangan teman-teman kelas Patimah yang lebih terkejut. Bagaimana Patimah akan menjelaskan tentang Brama kepada mereka, kacau sudah. Brama itu terlalu kasar hingga Patimah menahan tangis.
"Barang gue masih didalam," ucap Patimah yang berani kan diri.
"Entar kan elo bisa balik buat ngambil." Patimah hanya membalas tatap Brama yang melihat Patimah dengan intens.
Gak lama, Brama lanjut lagi menarik Patimah hingga ke suatu tempat. "Patimah, gue lupa password hati gue."
Brama kelihatan tegas dan serius mengatakan hal itu. Patimah yang tadi menatap Brama, langsung menghindar. Brama yang melihat tingkah Patimah, membasahi bibir.
"Gue serius." Brama berusaha memperlihatkan diri di hadapan Patimah yang menoleh kearah lain.
Tapi lama kelamaan buat Brama sedikit kesal, melihat Patimah terus membuang muka. "Hey, tatap gue. Gue ini lagi ngomong serius."
Mata Patimah yang enggan langsung menatap tajam. "Serius apa? Elo kayak bercanda dihadapan gue serta gak jelas."
"Gue serius kayak gini, elo bilang bercanda? Elo kali yang bercanda."
"Gue? Bercanda apaan, gue diam disini." Mata Patimah terlalu tajam sampai Brama heran.
"Woy kekasih Brama, kalem sedikit kenapa dah." Tangan Brama yang menekan kedua pipi Patimah langsung disingkirkan oleh Patimah.
"Wah, sadis elo."Komentar Brama setelah diperlakukan kasar oleh Patimah.
"Kita kan putus, apalagi yang mau diomongin? Gue gak mau dipegang sama elo."
"Gara-gara putus sepihak aja elo kayak gini? Elo kenapa dah, seperti bukan elo. Lagian ini putus sepihak, gue gak ada tuh bilang iya."
"Kalau elo mau putus, hadapin dulu diri gue yang lupa password." Diakhir ucapan Brama mendorong kening Patimah.
"Walaupun gue gak ngerti kenapa elo dengan gambang buka kotak hati, gue aja gak bisa. Gue aja sampai sekarang lupa password." Patimah mendorong Brama. Setelah melepaskan diri dari Brama, Patimah yang menjauh mulai berbicara pada Brama.
"Putus yah putus. Gak usah, ganggu gue lagi."
Brama mengepal tangan melihat punggung Patimah yang menjauh. "Sial. Apa-apaan tuh cewek. Gak ada masalah, lantang banget minta putus."
"Woy!! Kekasih Brama!" Seru Brama yang mengejar Patimah.
Brama menarik tangan Patimah, seketika itu Brama memegang kedua tangan Patimah. Brama berusaha erat memegang tangan Patimah agar Patimah tidak kembali menghempaskan tangan Brama. Ketika menatap dalam Patimah, Brama mengarahkan tangan kanan Patimah ke dada Brama sendiri.
"Sorry, sebelumnya. Gue lupa password buat ganti nama elo di hati gue." Tatapan lembut dan suara yang menyejukkan.
'Bodoh. Kamu seharusnya gak usah terbuai sama muka Brama. Kamu harus fokus Patimah!' Patimah langsung membuang muka, tidak ingin terpengaruh oleh wajah Brama.
"Terus gimana? Nama elo tetap ada di hati gue. Jadi biar adil, elo simpan nama gue juga!"
"Eh, gue bukannya gak mau pisah. Tapi yah emang lupa password. Udah deh, nurut napa sih?" Brama memperhatikan Patimah dengan muka anak kecil yang merengek.
"Ya udahlah, sampai gue ingat password peti hati gue aja. Abis itu beneran dah, pergi elo jauh-jauh dan ke dunia lain pun gue gak bakalan peduli." Patimah yang membuang muka menutup mata dalam-dalam, seakan menenangkan diri.
"Iya, gue janji. Brama gak bohong kok." Ucap Brama sambil memiringkan kepala kearah Patimah membuang muka.
'Cewek gue gini amat, sulit di bujuk. Sabar, sabar Brama.' Brama terus memperhatikan Patimah, entah kenapa Patimah tidak membuka mata.
"Enggak usah, terimakasih." Balas Patimah yang bersuara cukup kecil.
"Apa elo bilang? Gak kedengaran, elo bilang apa?" Karena tampak tidak mendengar, Patimah beranikan diri untuk menatap Brama.
"Putus yah putus, Brama."
"Soal tawaran elo, gue gak mau. Terimakasih." Brama terlihat kecewa buat Patimah mengalihkan pandangan kearah tangan yang digenggam erat oleh Brama.
"Sekarang menyingkir dari gue," lanjut Patimah mendorong Brama yang tiba-tiba melemahkan pegangan tangan Brama terhadap Patimah.
'Mau elo apaan hah? Gue pengen tahu elo beneran atau enggak.'
Brama menatap nanar kepergian Patimah. Tetapi Brama kembali berlari mengejar Patimah. Seakan gak peduli masih oleh orang lain, Brama berteriak sekuat tenaga.
"Woy, kekasih Brama!"
Bagaikan mengejar maling, tak jarang mereka jadi pusat perhatian. Angga dan Gilang yang lagi nongkrong, terkejut melihat Brama berlari mengejar cewek. Karena cewek itu akan melewati kedua teman Brama, Angga serta Gilang menghalangi jalan Patimah.
"Dapat, elo mau kemana? Elo nyuri apa dari Brama." Angga yang bertanya begitu heran, kenapa Brama begitu ingin mengejar cewek di hadapan Angga. Seperti Brama kurang kerjaan saja.
"Dia nyuri harta paling berharga. Jangan elo lepas dulu, Angga. Gue mau nafas." Sejenak Angga menatap Patimah dari atas hingga bawah. Setelah memperhatikan, Angga melepaskan tangan Patimah.
Kini, tangan Patimah udah dipegang oleh Brama. Angga yang heran mulai angkat bicara. "Narapidana elo, Brama? Tumben punya Narapidana. Emang dia nyuri apaan? Dari penampilan nih cewek kayak anak baik-baik."
"Wah, kalian gak tahu. Gue lupa password hati, gara-gara dia nih." Saat Brama berkata, buat kedua teman Brama binggung.
"Hati elo?" Tanya Angga sekali lagi yang masih tak paham.
"Maksudnya, elo jatuh cinta sama dia. Terus dia di ghosting sama nih cewek?" Ucap Gilang yang telah lama diam, mengamati kondisi.
"Yah seperti itu. Tapi nih cewek putusin gue secara sepihak." Mendengar pernyataan Brama, bikin Angga dan Gilang syok.
"Apa? Elo pacaran? Sejak kapan? Gue gak pernah tuh lihat elo, dekat cewek. Pacaran juga, kenapa gak pernah kasih tahu dah?" Oceh Angga yang gak mau diam, saking tak percayanya.
"Nah benar. Gue itu cowok gak pernah dekat cewek kan. Tapi nih anak mau putusin gue! Mana gue lupa password lagi buat buang nama nih anak."
"Kan tinggal dibuang. Gue bilang putus yah putus. Lagian seiring berjalannya waktu, elo beneran bisa lupa." Ucap Patimah yang tidak suka sikap keras kepala Brama.
"Kotak hati gue berkualitas! Gak kayak elo yang cepat banget rusak terus nama gue langsung tersapu. Hah, emang semudah itu apa hilangi nama gue?" Brama sedikit melampiaskan emosi ke cengkram Brama terhadap Patimah.
"Gak mau putus bilang. Aku terlalu sayang sama kamu, jiwaku akan hampa tanpa kamu kasihku." Angga berkomentar Alay yang tidak dihiraukan oleh Brama.
"Astaga, kenapa elo gak percaya sama gue? Apa karena muka gue kurang menderita? Haruskah gue tinju si Gilang baru ngomong sama elo, soal gue lupa password. Biar penderita lupa password itu nyata dimata elo? HM?" Gilang menatap tanda tanya kepada Brama, karena nama Gilang disebut-sebut.
"Bilang aja, gak mau kehilangan. Gak mau lihat kamu bersama orang lain, karena aku yang pantas sama kamu. Aduh, gue gak nyangka seorang Brama gini. Padahal elo ingat, Gilang. Nih anak bilang, put-"
"Woy, Angga." Brama memberi peringatan buat Angga berhenti.
"Iya, iyain aja. Elo kecintaan hingga bilang hal yang gak masuk akal, soal lupa password. Bucin, bucin." Ejek Angga, dimana Gilang hanya geleng kepala melihat Brama marah dengan Angga.
"Angga, diam! Gue yah gue. Jelas gue yang paling tahu diri gue. Kalau gue lupa password buat buang nama dia." Brama langsung berlari sambil menarik Patimah.
"Lah ka-"
"Udahlah, Angga. Brama itu emang batu, jadi wajar. Apalagi Brama baru pertama kali pacaran, jadi yah gitu." Gilang menahan bahu Angga, mendengar itu Angga menghembuskan nafas.
"Gue juga heran, kenapa bisa tuh cewek pacaran sama Brama. Gue dengar, si cewek itu orangnya mudah nangis dan lembut gitu. Beneran bikin kaget."
"Iya. Walaupun begitu, mungkin si cewek sudah gak betah lagi. Maka dari itu, dia minta putus." Balas Gilang yang membuat Angga menganggukkan kepala.
"Iya sih. Semoga aja ada titik terang yang bagus buat mereka." Gilang hanya mengangguk setuju akan omongan mereka.
Di suatu tempat lain, Patimah menahan rasa sakit yang di buat Brama. Tetapi Patimah tidak ingin terlihat lemah didepan Brama. Datanglah kedua teman Patimah, salah satunya memegang tas Patimah.
"Woy, anak orang yang nyakit tangan Patimah. Singkirkan gak, tangan kotor elo dari Patimah! Atau.." Sejenak Aida berhenti, Aida sedang melirik Shofia.
"Kami telepon wali kelas plus dewan kesiswaan, mau elo?!" Ucap Shofia yang melanjutkan omongan Aida.
Setelah itu kedua teman Patimah datang lagi. Brama hanya tersenyum kecil melihat teman-teman sang kekasih mengelilingi. "Subhanallah, ukhti Patimah."
"Anda siapa? Narik ukhti Patimah dengan sembarang." Lanjut Tiara, teman dari Patimah yang baru saja datang bersama Kiya.
"Anda tidak sopan!"
"Sabar bunda, jangan emosi. Istighfar Bun." Kiya memegang pundak Tiara, walaupun begitu menatap tak suka terhadap Brama.
"Ya Allah, Astaghfirullah. Astaghfirullah." Kiya yang mengangguk, perlahan berjalan kearah Patimah dan menipis kasar hingga tangan Patimah terlepas.
"Elo gak papa?" Tanya Shofia yang memegang tangan Patimah.
"Wah, merahnya tangan elo. Sialan tuh cowok." Aida tidak bisa berhenti mengatai Brama, tetapi Patimah hanya tersenyum tips dengan air mata yang ingin terjatuh.
"Ah." Seolah paham, Shofia menutup mulut Aida mengunakan tangan secara mendadak. Aida membulatkan mata tak terima, padahal dalam hati ingin mengumpati Brama lebih dari yang dia lakukan.
"Sudah, mending kita pergi yuk." Shofia mengajak paksa Aida bersama Patimah.
Tiara menghembuskan nafas, "Kiya! Yuklah pulang aja, gak ada faedah buat kita tinggal disini. Yuk balik."
Kiya yang sebal, menurut saja ketika Tiara mengajak Kiya buat balik bersama. Brama bisa tenang sekarang dari teman-teman Patimah. "Ah, sial. Emang yah cewek selalu benar. Siapa dah bikin kata-kata kayak gitu, benar-benar doa seakan nyata."
Brama yang diselimuti kekesalan membuka hp. Hal pertama kali yang Brmaa buka ialah room chat bersama Patimah. Chat yang tidak ada persoalan, namun diakhiri dengan kata 'putus' yang baru saja terkirim.
'Nyebelin nih anak. Apa-apaan coba minta kayak gitu. Dia pikir gue ini Doraemon apa? Minta putus segala, gue kan bukan Doraemon!!'
'Dia pikir gue punya alat kayak Doraemon, hah? Huh, nyebelin ini anak. Tapi yah kenapa juga dulu gue bisa pacaran sama si dia? Lah binggung gue.'
'Elo ngomong yang jelas! Gue gak terima kalau gak jelas gini.'
"Gak mungkin, gak ada alasan. Gue yakin, elo masih sayang sama gue. Gak mungkin, gara-gara gue kurang cakep ataupun elo tertarik sama cowok lain kan?" Brima mulai ingin merekam sesuatu di room chat bersama Patimah.
"Pokoknya gue lupa password!! Gak pakai titik atau koma tentang itu tolong tunda persetujuan lembaga putus kita!! Yang terhormat dan tersayang, Patimah."
πΉπΉπΉ⭐πΉπΉπΉ
π ππ²πΌπΌ π€, ππͺπ½π²πΆπͺπ±!
⠀⠀By Eun_Prita
πππππππ
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ππ
π’π―π°ππͺππ²π«π€π
Grup Tele disini
IG one : Prita_Eun
IG two : Eun_Prita
Komentar
Posting Komentar